Langsung ke konten utama

Kenapa Anda Menjadi Guru?

Kenapa Anda Menjadi Guru?

oleh: Siwi Nurdiani,S.Pd.

Membayangkan jadi guru yang harus berhadapan dengan banyak anak dengan berbagai karakter dan latar belakang, bisa jadi membuat ciut nyali. Satu orang berada di antara puluhan pribadi dan jenis pemikiran juga sudah pasti tidak akan mudah. Akan tetapi ada lho, mereka yang memilih profesi ini sebagai the way of life mereka. Kira-kira kenapa ya?

Foto: dokumentasi pribadi, suasana pembelajaran di kelas 



Padahal Kadar Stress Guru Katanya Paling Tinggi di antara Profesi Lainnya


Jika dilihat dari beban dan tanggung jawab moral yakni mendidik seorang manusia muda sehingga memiliki dasar keilmuan dan karakter yang diinginkan kurikulum, tentu guru adalah profesi yang amat mulia. Akan tetapi akan berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan dan kondisi psikis. Profesi ini dinilai kurang menjanjikan dari sisi finansial. Ada juga yang menyatakan bahwa profesi guru juga menjadi profesi yang kadar stressnya cukup tinggi. Kenapa bisa begitu ya?


Pertama, berhadapan dengan berbagai karakter manusia dan latar belakang. Dalam waktu bersamaan seorang guru dituntut memahami secara individual peserta didik yang ada di kelasnya sekaligus memberikan treatment sesuai dengan kondisi semua orang. Bayangkan, kecerdasan tingkat dewa seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang guru?


Kedua, berhadapan dengan orang tua/wali peserta didik dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, religi, hingga tingkat pendidikan. Keruwetan yang dihadapi di kelas itu masih harus diramu dengan pelayanan prima bagi para ortu/wali yang telah mulai melek hak-hak mereka (entah dengan kewajibannya).


Ketiga, berhadapan dengan institusi yang menaunginya. Dilema isntitusi yang menaungi guru dengan berbagai birokrasinya acapkali juga menjadi beban tak ada habisnya bagi seorang guru. Urusan jenjang karier, kedisiplinan pegawai, kode etik, dan seabreg tanggungjawab birokrasi lainnya. 


Keempat, berhadapan dengan rekan sejawat. Kehidupan sosial di antara sesama teman sejawat tentu mengalami dinamika. Di satu sisi membutuhkan teman sejawat yang bisa saling kolaborasi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik. Di sisi lain, kebersamaan selama delapan jam sehari dalam satu tempat tak akan bisa dari berbagai dinamika sosial seperti perbedaan pendapat, ego, kepentingan pribadi, kebutuhan akan eksistensi, loyalitas, komunikasi, dan kebersamaan. Dari situ dapat tercipta juga interaksi seperti saling sikut, saling menjatuhkan, saling cibir, bahkan sampai status yang lebih gawat semisal saling lapor.


Kelima, berhadapan dengan situasi suatu negara (perang, politik, resesi ekonomi, keamanan global, terorisme, dan kebijakan-kebijakan terkait negara lainnya). Tak melulu menyangkut kehidupan guru, kondisi tersebut tentu juga akan berpengaruh pada stabilitas dunia pendidikan pada umumnya. Yang paling mungkin, adanya peta perpolitikan di suatu negara tentu akan berimbas pada kebijakan terkait pendidikan. 


Masih Bersemangat Jadi Guru? Jika iya, Anda adalah manusia luar biasa yang dipilih oleh semesta untuk tugas mulia. Tak peduli seberapa Anda akan mendapat tanda jasa atau tidak, profesi ini akan menjanjikan Anda kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.


Apa sajakah itu? 

Menjadi Pribadi yang dinamis

Mau atau tidak, seorang guru terus bergerak sesuai dengan perjalanan dunia pendidikan. Kondisi itu telah membentuk karakter dinamis tersebut secara terus menerus. 

Menjadi Pribadi yang senantiasa belajar

Dengan adanya tuntutan kurikulum, perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik dari masa ke masa -- seorang guru terus belajar dan bahkan sadar diri bahwa ia memerlukan terus belajar segala hal. Bisa saja saat ia belajar lagi, ia akan menemukan hal-hal fantastis yang belum disadarinya selama ini. Atau, ia baru memahami sesuatu dengan lebih sempurna saat belajar hari ini. 

Menjadi Pribadi yang senantiasa kekinian


Pesatnya perkembangan keilmuan dan teknologi serta trend yang disukai oleh peserta didik sebenarnya menjadi salah satu senjata bagi guru untuk mendekatkan jarak dirinya dengan peserta didik. Maka guru akan termotivasi untuk menjadi kekinian tanpa harus terbawa arus atau ketergantungan. Bahkan ia memiliki kebijaksanaan kapan menggunaan aturan kekinian itu di dalam kelasnya.

Foto (dokumentasi pribadi):
Guru mendekatkan pada teknologi, pengalaman praktik nyata, dan kegiatan reflektif  media pohon  refleksi


Menjadi Pribadi yang Terbarukan dan Tercerahkan

Bertemu dengan peserta didik dengan berbagai problematika yang dihadapi, terkadang membuat guru menjadi lebih bijaksana dalam bersikap dan menentukan aksi yang akan dilakukan. Hal ini akan terus diperbarui selama guru adalah pribadi yang bertumbuh atas ilmu pengetahuannya dan atas kepribadiannya secara komprehensif. Ia akan membutuhkan banyak diskusi-diskusi sesama teman sejawat, ahli, generasi masa kini, dan juga kearifan-kearifan di masa lalu sebagai salah satu pijakan  atau pondasi yang jangan sampai terlupakan.


Nah selamat ya buat Anda yang telah mengambil keputusan untuk menjadi seorang guru! Jangan lewatkan artikel-artikel seru lainnya seputar menjadi gurubahagia sepanjang masa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Okti: Cita-cita, Pilihan Hidup, ataukah Takdir? Oleh Siwi Nurdiani, disampaikan dalam bedah novel Tanpa Gravitasi Sabtu 26 April 2025 di Joglo Girli Menoreh Pengasih Wates Kulon Progo.   Okti: Sastrawan Belia Kulon Progo dan Produktif                          Tanpa Gravity , novel kelima Okti. Novelis muda produktif, Fafa Junior-nya Kulon Progo. Menyimak Tanpa Gravity, seperti membayangkan saat Fafa belia menulis novel. Setiap kali saya membaca tulisan Fafa itu, seperti menyaksikan putri-putri cantik yang telah diseleksi, telah di makeover, dan ready di atas panggung dengan kostum terbaiknya. Melenggang di catwalk begitu indah dan super rapi. Terkonsep dengan matang. Pertama kali saya menerima kiriman novel dari Pak Tri, terbayanglah Supernova -nya Dee yang identik dengan warna hitam. Saya tidak tahu apakah Okti juga pembaca setia Supernova? Yang jelas ada harapan besar begitu pertama memegang TG di ...

Intip Gaya Liburan Guru

Intip Gaya Liburan Guru Oleh: Siwi Nurdiani, S.Pd.   Foto: dokumentasi pribadi Kebijakan mengenai libur selalu menjadi kabar gembira. Termasuk ketika guru mendapatkan hak liburan selama peserta didik libur akhir semester. Apa saja aktivitas yang biasanya dilaksanakan selama liburan supaya fresh kembali saat masuk pembelajaran semester genap? Jangan sampai liburan justru menyisakan rasa penat sehingga saat masuk kembali tinggal capeknya saja. Beberapa hal di atas lumrah terjadi di kalangan para guru. Ada hal yang dapat kita ambil sebagai alternatif pencerahan, bisa juga digunakan sebagai muhasabah diri lalu memperbaikinya kemudian. Ini dia beberapa konsep liburan para  guru.   1.  Mudik Tidak semua guru beruntung bekerja atau mendapatkan tugas yang lokasinya dekat dari rumah. Ada banyak guru yang harus merantau. Bagi para guru yang memiliki keluarga jauh dari tempat tugas, momen libur semester menjadi salah satu kesempatan untuk mudik. Ini adalah konsekuensi dari gur...