Okti:
Cita-cita, Pilihan Hidup, ataukah Takdir?
Oleh Siwi
Nurdiani, disampaikan dalam bedah novel Tanpa Gravitasi Sabtu 26 April 2025 di
Joglo Girli Menoreh Pengasih Wates Kulon Progo.
Okti: Sastrawan Belia Kulon Progo dan Produktif
Tanpa
Gravity, novel kelima Okti. Novelis muda
produktif, Fafa Junior-nya Kulon Progo. Menyimak Tanpa Gravity, seperti
membayangkan saat Fafa belia menulis novel. Setiap kali saya membaca tulisan
Fafa itu, seperti menyaksikan putri-putri cantik yang telah diseleksi, telah dimakeover,
dan ready di atas panggung dengan kostum terbaiknya. Melenggang di catwalk
begitu indah dan super rapi. Terkonsep dengan matang.
Pertama
kali saya menerima kiriman novel dari Pak Tri, terbayanglah Supernova-nya
Dee yang identik dengan warna hitam. Saya tidak tahu apakah Okti juga pembaca
setia Supernova? Yang jelas ada harapan besar begitu pertama memegang TG di
tangan saya.
Di
paragraf pertama saya langsung tertarik dengan deskripsi sosok Fake Princess
atau Putri yang seorang petarung MMA (bela diri berbasis karate). Pasti ini
tokoh sangat unik, atau setidaknya terbayang bahwa ayahnya sebesar Deddy
Corbuzier dan ibunya secantik Sabrina Khoirunnisa. Dari awal paragraf saja Okti
sudah berhasil menggiring rasa penasaran pembaca yang rata-rata tidak
mengetahui kehidupan sehari-hari seorang petarung MMA, apalagi cewek. Momen ini
juga membuktikan betapa cerdiknya penulis dalam mengelola konflik dan alur
cerita hingga akhir. Okti ini dengan penuh pertimbangan dan strategi sengaja
membentur-benturkan tokohnya dengan berbagai kepentingan dan latar belakang
yang out of the box.
Salah
satunya adalah Ketika ternyata Fake Princess atau Putri ini ternyata
masih memiliki darah biru keluarga pesantren ternama. Putri terpaksa secara
sengaja menghilangkan jati dirinya sebagai petarung MMA Ketika ia harus boyong
ke rumah kakek neneknya di pesantren. Di sana ia seperti halnya drama, ia harus
berperan sebagai seorang Ning yang salehah-alim ilmunya-pendek kata jadi
panutan untuk santriwati dari kakeknya.
Okti
juga cukup berani membuat tabrakan-tabrakan dengan maksud mengecoh imajinasi
pembacanya, bahkan terkadang seperti sengaja memupus harapan pembaca dengan
berbagai peristiwa seperti meninggalnya kedua orang tua, hidup dalam
kepura-puraan menjadi santri, kuliah, hingga menjadi dosen di UIN semuanya demi
sang kakek. Putri ini gambaran seorang anak yang tidak apa-apa bila harus
mengorbankan impian dan cita-cita oleh karena keadaan yang memaksa.
Konflik
semakin Nampak saat ia secara resmi menjadi dosen di UIN, yang entah bagaimana
ia dimudahkan dalam seleksi hingga wawancara. Seolah seleksi hanyalah
formalitas, hanya untuk memuluskan jalan Putri menjadi dosen saja. Putri yang
selalu saja buruk sangka terhadap orang yang selalu tampil sempurna tak terlalu
suka dengan kaprodi (Zulfikar) yang baginya sok alim, sok suci, sok benar
sendiri tanpa mendengar masukan atau apapun yang Putri bilang. Sampai-sampai
Putri berpikiran kalau Zulfikar itu psikopat. Lagi-lagi Okti telah banyak makan
asam-garam soal menjaga alur cerita dengan membiarkan Zulfikar berpotensi sebagai
antagonis dan tetap misterius di mata Putri. Tak hanya satu tokoh, lantas
ditambahkan lagi kehadiran satu tokoh yang Nampak protagonist dan memberikan
sejuta harapan, syakni Rayyan—sosok mahasiswa di kelas Putri yang dominan namun
insting Putri berkata bahwa ia patut dicurigai. Saya rasa Okti cukup sadar diri
untuk membuat Putri ini jadi sedikit ‘bego’, ‘gak ngeh’, dan ‘membuat
kesalahan’ untuk membuat si tokoh putri yang amat sangat natural dan membumi:
real dan make sense dengan kehidupan pembaca sehari-hari. Makanya ia
menciptakan dua tokoh rancu yang sengaja di pasang sebagai jebakan imajinasi di
angan-angan pembaca.
Ada
konsekuensi yang harus diterima di balik suatu pilihan atau keputusan yang
dibuat Putri. Keputusan itu pula yang membawa para pembaca ke tahap alur
berikutnya, demikian selalu adanya. Makanya Ketika alur cerita membawa Zulfikar
pada suatu rahasia Ketika ia memergoki siapa sesungguhnya putri—itu tetap
menjadi suatu yang natural di dalam cerita ini. Zulfikar sang dosen, ternyata putra
kiai yang berhubungan baik dengan kakeknya. Rayyan mendekati prasangka saat
tanpa sengaja mereka bertemu di gym milik alm ayah bundanya.
Kenyataan
di luar nurulnya adalah, ternyata Rayyan memiliki rahasia masa lalu sangat
misterius dan tak bisa ditebak. Dengan sengaja Rayyan menyebar foto Fake
Princess dan foto tatkala Putri menjadi dosen dengan kehidupan feminimnya.
Di medsos ia berkoar-koar tentang sosok Putri selama ini sebagai Ning, Dosen,
dan Wanita salihah itu hanya kedok untuk menutupi jati diri sebagai fake
princess—sang petarung MMA.
Dengan
bantuan sahabatnya, Putri mendapat info bahwa Rayyan memiliki adik yang sedang
sakit di rumah sakit, yang ternyata adalah lawan main Putri di masa lalu.
Lawannya itu cidera karena serangan putri hingga koma bertahun-tahun. Itu
adalah penyebab utamanya. Rayyan sampai kapanpun mendendam. Dengan berbagai
upaya mereka pun berhasil menyelamatkan membongkar kedok Rayyan.
Kemudian
kisah Putri dan Zulfikar pun mengalami perkembangan. Selain keduanya saling
curiga dan saling menguntit, mereka pun sama-sama menyembunyikan jati diri.
Membangun
Kompleksitas dalam Novel
Dari
segi kompleksitas, novel ini tergolong novel yang pas dan enak dinikmati
dalam situasi santai. Artinya pembaca yang membutuhkan hiburan sebab penat
dengan pekerjaan atau aktivitas lain tak harus menguras energi untuk mendapatkan hiburan. Terkadang membaca novel dengan kompleksitas tinggi
memerlukan duduk lebih lama, perenungan, baca ulang, diskusi, cari referensi,
tentu semua harus dilakukan dengan benar.
Kompleksitas
itu dapat berupa cara membangun karakter tokoh, kepribadiannya, asal-usul
daerahnya, lantas tak ketinggalan setting ruang dan waktu yang tak linier.
Novel ini tergolong aman dalam bidang setting ruang waktu. Artinya masih banyak
celah yang dapat dimasuki Okti untuk menulis bab-bab baru atau di sela-selanya
guna membangun kompleksitas yang lebih lagi. Misalnya saja kisah masa lalu
dengan orang tuanya semenjak hidup hingga meninggal. Saya cukup merasa ‘hhhh’
Ketika menyadari bahwa Okti belum memberikan jawaban rasa penasaran mengenai
ortu Putri. Mungkin dengan menambahkan scene ini kayak ia menemukan parfum yang
dibeli dengan harga mahal.
Mungkin
kita bisa belajar dari cara Ayu Utami menulis novel. Dalam novel Saman saja, ada
beberapa sudut pandang tokoh yang membuatanya jadi kompleks: sudut pandang
Saman, Sudut pandang Larung, dan sudut pandang Yasmin. Belum lagi alur yang
dimainkan. Flash back yang dilakukan dapat menguak rahasia-rahasia terpendam.
Mungkin itu juga alasan kenapa Ayu Utami akhirnya mendapatkan nobelnya. Sepertihalnya
memahami proses kehidupan kita sendiri yang berlapis-lapis dan tak dapat
terlepas satu sama lain. Saling terkait bahkan secara sederhana terlihat
sebagai rentetan sebab akibat dan probabilitas.
Membaca
Ideologi dalam Novel TG
Simbolisme dominasi kekuatan fisik yang secara konvensional dimiliki oleh laki-laki ternyata didobrak oleh Okti. Nyatanya dalam novel ini, pemiliknya adalah tokoh utama seorang perempuan yang bisa switch on dan switch off. Ide besar yang diangkat, telah menunjukkan nilai-nilai feminis kekinian yang memang telah secara sadar dimiliki generasi Z sekarang ini. Tak bisa dipungkiri, fenomena sosial ini benar-benar terjadi di lingkungan kita saat ini. Artinya juga bahwa dunia ideal versi Okti yang ia harapkan adalah kesetaraan antara Putri dan Zulfikar baik secara fisik, akademis, emosi, maupun religiusitas. Rasa-rasanya novel ini sangat direkomendasikan untuk pengenalan nilai sosial berimbang. Hal ini tentu meresahkan jika kita melihat fenomena yang digambarkan dalam series kontroversial produksi Malaysia. Siapa yang tak familiar dengan sosok Walid dalam film tersebut.
Sedikit banyak, Okti juga memperkenalkan budaya pesantren yang sebenarnya tak asing di Indonesia namun bisa jadi juga masyarakat umum tak mengetahui detail-detail kehidupan di pesantren. Meskipun secara porsi, detail setting kehidupan pesantren itu belum sampai pada hal-hal tersembunyi yang bisa jadi itu bersifat hal kecil, renik, sepele, namun khas dari kehidupan santri di pesantren. Di sini tantangan yang harus dihadapi seorang penulis selain melakukan riset atau berinteraksi langsung dengan objek yang ditulis, menyebutkan detail-detail intimnya, atau rahasia-rahasia kecilnya. Itu menjadi salah satu trik bahwa penulis fiksi berjuang agar fiksi tersebut nampak sebagai kebenaran yang dapat dilogika.
Akhirnya selamat merayakan sastra! Selamat kepada adinda Okti atas karya-karyanya. Selalu ditunggu kelahiran karya-karya selanjutnya. Meramaikan jajad bacaan Indonesia di masa kini dan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menggapai cita-citanya tak peduli itu masih berpijak di atas tanah ataukah melampaui segala batasan, tanpa gravitasi!
Komentar
Posting Komentar