Apa yang Dirindukan Peserta Didik Saat Liburan?
oleh: Siwi Nurdiani, S.Pd.
![]() |
| Foto: Dokumentasi Pribadi |
Liburan menjadi hal paling membahagiakan bagi para peserta didik. Apalagi mereka para santri yang tinggal di pondok pesatren, boarding school, indekos, atau panti asuhan sekalipun. Santri biasanya akan memanfaatkan momen perpulangan untuk merasakan sensasi kebebasan di luar pondok. Saatnya bertemu keluarga, teman sekampung, teman alumni sekolah yang sama, atau juga barisan para bestie.
Peserta didik yang tinggal di asrama sekolah/boarding school/ panti asuhan tentu kurang lebihnya sama. Merasakan sensasi terlepas sejenak dari segala rutinitas dan segala peraturan yang harus mereka jalani 24 jam. Bagi mereka yang tinggal di panti asuhan, mereka menjadi pribadi yang lebih kuat dari siapapun ketika dihadapkan pada realita bahwa panti itu adalah rumah mereka. Pulang ke rumah yang sebenarnya adalah mimpi yang mustahil.
Akan tetapi segala sesuatu yang bersifat liburan pun ada masa jenuhnya. Mereka akan segera merasa ingin kembali ke kelas, dengan berbagai sebab. Berikut ini hal-hal yang paling dirindukan oleh peserta didik selama liburan.
1. Rindu "Omelan" Guru
"Omelan" dalam hal ini merupakan salah satu kosakata yang mengalami perubahan bentuk yang secara implisit sebenarnya bermakna lebih dalam. Bahwa omelan itu wujud dari perhatian seseorang (dalam hal ini guru), nasihat yang memberikan andil dalam menentukan keputusan peserta didik, dan juga menjadi sebagian kecil dari sebuah motivasi dari luar diri seseorang.
Peserta didik sebagai manusia yang lebih muda, memiliki banyak kerentanan apalagi terkait pengambilan keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan tugas pembelajaran dengan baik ataukah memilih bermain bersama teman, terkadang pribadi muda belum memiliki kekuatan untuk melaksanakannya. Maka intervensi seorang guru--yang dikenali sebagai "omelan" tersebut menjadi salah satu sebab kenapa siswa menjadi lebih baik. Tak hanya dalam tugas saja tetapi juga meliputi sisi karakter sebagai dampak habituasi.
Meskipun dalam sebuah penelitian ada pernyataan yang mengatakan bahwa peserta didik sebagai pejuang itu akan berusaha lebih baik karena motivasi yang kuat dari dalam diri sendiri dengan renungan lantas mereka dapat memberikan nasihat untuk diri mereka sendiri. Akan tetapi dalam proses yang dilalui peserta didik sebagai jiwa muda, ia pun akan mencerna dari apa yang telah disampaikan seorang guru kepadanya--terlepas dari proses menerima motivasi yang dilalui oleh setiap individu tentu akan beda-beda.
2. Menantikan "Lawakan" Guru
Menyambungkan dari pembahasan sebelumnya mengenai omelan, hal kedua yang dirindukan oleh peserta didik adalah "lawakan" atau dalam istilah bahasa inggris biasa disebut jokes. Sebenarnya, masih seputar memaknai lebih dalam mengenai jokes itu sendiri. Dari luar, lawakan terkesan sebagai sesuatu hal yang receh, remeh-temeh, ringan, menggembirakan, dan kadang garing.
Candaan atau lawakan merupakan hal yang dikatakan atau dilakukan untuk memancing taa atau menimbulkan geli, sebagai guruan, anekdot pendek dan lucu, atau tindakan iseng. Bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang lucu atau menggelikan, terutamam karena dianggap tidak memadai atau palsu suatu hal, situasi, atau orang yang ditertawakan daripada dianggap serius.
Akan tetapi secara implisit sebenarnya jokes yang terjadi antara guru dengan siswa memiliki berbagai latar belakang dan tujuan. Seorang guru melontarkan candaan bisa jadi dalam rangka memberkan nasihat dengan cara halus sehingga sehingga peserta didik tidak merasa bahwa sebenarnya ia sedang menerima nasihat. Otak cerdasnya bekerja di alam bawah sadar karena dalam kondisi gembira tersebut saraf-saraf dapat bekerja lebih baik mencerna makna di balik kata-kata. Atau biasa disebut sebagai hikmah.
Dalam kondisi tertentu jokes digunakan oleh guru untuk
menghilangkan rasa jenuh atau bosan yang akan sangat mungkin terjadi di dalam
sebuah kelas saat jam-jam rawan seperti siang hari, hari-hari yang berat
karena padatnya aktivitas siswa, ataupun riuhnya kondisi psikologis peserta
didik sebab latar belakang yang dialaminya. Bisa jadi peserta didik berangkat
dari rumah dalam kondisi psikologis yang telah mengalami kelelahan akut karena
kondisi rumah yang tidak enak ataukah jalinan persahabatan yang terganggu.
Bagi sebagian besar peserta didik, jokes yang dilontarkan oleh guru lebih banyak dan lebih mudah diingat sepanjang hidupnya dibanding nasihat paling bermakna sekalipun--apalagi jika dibandingkan dengan aksi marah atau hal-hal kurang menyenangkan lainnya. Makanya terkadang kondisi menyenangkan di kelas itu akan menjadi motivasi terbaik yang datang sebelum seberapa penting materi/ilmu yang akan mereka terima.
Sesi liburan kali ini, tak ada salahnya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk mengumpulkan energi, kebahagiaan, dan memperkaya jokes receh yang sekiranya akan mendukung suasana hati para peserta didik. Tujuannya tak lain agar mereka benar-benar merasa siap lahir batin terhadap sesi pembelajaran yang harus mereka lakukan. Meskipun catatan pentingnya adalah tetap penting juga membangun kesadaran bahwa guru dan peserta didik memiliki batas-batas yang seharusnya tidak boleh dilanggar.
3. Cerita-cerita seru dari Guru
Ini sungguh-sunggu terjadi di beberapa kelas yang ditemui. Sebagian besar peserta didik dengan kecerdasan auditori sangat senang mendengarkan cerita yang disampaikan oleh guru. Apabila guru mendapati kelas yang seperti ini, cerita adalah hal terbaik yang dapat digunakan sebagai media menyampaikan nilai/values yang ingin kita capai dari sebuah aktivitas pembelajaran. Meskipun tidak semua peserta didik menyukainya akan tetapi perlu sekali waktu guru menyiapkan cerita inspiratifnya. Mana tahu, dari jalur inilah salah satu dari mereka merasa terinspirasi. Ya, kita tidak pernah benar-benar tahu jalur manakah yang sesuai dari kondisi mereka saat itu.
Seorang guru juga bisa memberikan treatment terbalik. Memberikan kesempatan siswa untuk bercerita adalah kesempatan terbaik yang diberikan guru kepada peserta didik yang berkepribadian ekstrovert dan memiliki banyak pengalaman semasa liburan. Hal ini tak hanya menjadikan cerita seru dari guru saja yang dapat dijadikan pembelajaran, akan tetapi mereka akan belajar lebih banyak lagi dari apa yang mereka katakan dan telah mereka alami serta lakukan di masa lalu.
![]() |
| foto: Dokumentasi Pribadi |
4. Teman Sefrekuensi sebagai Guru yang Terbaik
Jika memiliki peserta didik yang tengah beranjak remaja dan mengalami fase dimana teman adalah segala-galanya maka ungkapan di atas sudah sangat sesuai. Sosok guru yang akan berpengaruh lebih dahsyat dibanding pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah pengalaman dan kebersamaan sehari-hari bersama teman satu frekuensi. Jika mereka telah menemukan friendzone yang nyaman, ini menjadi salah satu pondasi untuk memudahkan kerja guru di dalam kelas.Jadi, penting memahami bagaimana situasi pertemanan di kelas itu jauh sebelum guru memberikan treatment kerja kelompok.
Hal tersebut tentu membutuhkan ilmu tersendiri. Guru sudah seyogianya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam hal dinamika kelompok. Adanya potensi konflik dalam suatu kelas menjadi penting dan patut dicarikan solusi--bukan mempertajam konflik akan tetapi bagaimana guru dapat mewadahi suatu konflik agar terselesaikan secara alami. Membangun kesadaran bahwa konflik yang tercipta itu hanya dapat selesai dengan kesepakatan, kesadaran, saling menghargai, dan saling pengertian.
Biasanya, mereka yang duduk di kelas akhir menjadi komunitas yang akan lebih solid karena mereka telah bersama sekian lama dan menyadari bahwa teman-teman mereka adalah komunitas terbaik dan telah memiliki ikatan emosional yang teramat kuat. Betapa beruntungnya seorang guru jika di dalam kelas telah tercipta kondisi seperti ini. Itu artinya peserta didik telah mengalami kondisi terbaik dalam hidup mereka dan siap melakukan hal-hal luar biasa dan tantangan-tanganan belajar yang diberikan oleh guru.
5. Kantin Sekolah Tempat Paling Dirindukan
Diantara semua hal di atas, peringkat terbaiknya masih disandang oleh kantin sekolah. Kantin merupakan tujuan terbaik yang mendukung kebutuhan primer peserta didik selama lebih dari enam jam selama satu hari berada di sekolah. Entah itu perihal makanannya, penjaga kantinnya, atau keseruan bersama teman yang membuat mereka begitu asyik. Semuanya saling berkaitan. Saat-saat berada di kantin adalah waktu terbaik peserta didik dapat bertemu dengan teman yang lain.
Ada banyak keajaiban yang terjadi semisal transfer jokes baru, berita terpanas, trend terkini, dan bocoran informasi dari teman di lain kelas. Ada banyak sekali faktor ajaib yang menyadarkan bahwa posisi guru tak sesimpel yang dibayangkan. Sebagai guru juga harus siap menjadi salah satu bahan perbincangan mereka di pojok-pojok kantin sekolah. Maka kesan-kesan terbaik yang dibangun akan lebih penting dari setinggi apapun pembelajaran di kelas yang akan kita berikan.
Apakah kita siap menjadi guru yang dirindukan kehadirannya? Masih banyak hal lain yang perlu terus digali oleh seorang guru sehingga menemukan formulasi terbaik untuk pembelajaran bermakna di kelas kita. Belajar sepanjang hayat, membaca buku, berbincang dengan peserta didik, berdiskusi dengan orang tua, dan bahkan suatu saat para guru harus berada di kantin, membaur bersama mereka, dan kita akan menemukan hal-hal aneh bin ajaib yang mungkin selama ini belum kita sadari.
Ucapan terima kasih untuk Lailly Nur Faizah. Tulisan ini terinspirasi dari obrolan di suatu sore saat liburan semester.


Komentar
Posting Komentar